Artikel Diving

Desa Pemuteran Raih UNDP Equator Prize 2012

Setelah berupaya dalam konservasi karang lebih lebih dari dua dekade, I Gusti Agung Prana dan masyarakat desa Pemuteran di Kabupaten Buleleng di Bali Utara kini menikmati sukses, karena dunia telah mengakui upaya mereka yang luar biasa untuk memulihkan terumbu karang yang rusak dan melestarikan habitat bawah laut di teluk Pemuteran dan sekitarnya. Berawal dari usaha yang sangat kecil yaitu dari perlindungan karang dan laut berbasis masyarakat untuk membantu nelayan setempat mendapatkan kembali mata pencaharian mereka, Pemuteran Coral Protection Foundation saat ini merupakan salah satu yang paling banyak dibicarakan tentang proyek konservasi di di panggung lingkungan internasional, diberi penghargaan lingkungan bergengsi – United Nations Development Program (UNDP) Equator Prize in 2012. Photo by Irene Santoso

Informasi lebih lanjut tentang pernghargaan ini, cukup klik link di bawah ini:

http://www.thejakartapost.com/news/2012/06/07/praise-pemuteran-coral-protection.html


Artikel Diving, Tempat Diving

Biorock, Terumbu Karang Buatan di Pemuteran

Semakin menurun dan rusaknya terumbu karang, mendapat respon dari berbagai kalangan peneliti untuk menemukan solusi alternatif. Dewasa ini pembuatan TKB (Terumbu Karang Buatan) merupakan hasil penelitian yang sudah dikembangkan di banyak kawasan yang mengalami kerusakan sebagai stimulan bagi recoverry terumbu karang. Di Pemuteran Bali telah dikembangkan terumbu karang dengan metode yang berbeda dari biasanya yang menggunakan beton dan rangka baja.

Dua peneliti almarhum Prof. Wolf Hilbertz (Jerman) dan Dr. Thomas Goreau (AS) berhasil menemukan dan mematenkan Biorock sebagai solusi alternaif yang baru. Biorock memiliki struktur yang dibentuk dari besi dialiri listrik tegangan rendah, mekanisme kimiawi terjadi ketika aliran listrik tadi menimbulkan reaksi elecktrolityc yang medorong pembentukan mineral alami pada air laut, seperti calcium carbonat dan magnesium hidroxyde. Pada saat bersamaan perubahan elektrokimia mendorong pertumbuhan organisme disekitar sturktur. Akibatnya ketika bibit karang ditempelkan pada struktur besi tersebut, perumbuhannya akan lebih cepat terjadi.

Biorock di Pemuteran Bali memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi dari 19 negara yang menerapkannya. Hm…!! nggak salah donk kalau Biorock di Pemuteran telah 5 kali meraih penghargaan baik lokal maupun internasional. Harapan besar bagi perkembangan teknologi ini untuk diterapkan di daerah lain di Indonesia (Karimunjawa) apalagi di Pemuteran Bali sejak tahun 2000 membawa nilai positif yang sangat besar bagi konservasi dan sektor pariwisata..
Kunci keberhasilan Biorock di Pemuteran Bali merupakan keterlibatan dari berbagai pihak terutama masyarakat sekitar. Kelompok nelayan dan Pecalang laut (polisi desa adat) dalam mejaga dari kegiatan penangkapan ikan yang nggak berwawasan lingkungan (bom, sianida, trawling dll). Pengembang wisata dan dive center juga nggak mau kalah, mereka merupakan donatur tetap pembiayaan pengeluaran listrik. Bayangkan setiap bulanya Biorock memerlukan sedikitnya 5 juta. Wow…!!

Sekarang sudah ada contohnya kalau konservasi juga mempunyai nilai jual tersendiri…!! Tergantung bagaimana keterlibatan dari berbagi pihak dalam pengelolaannya dalam mencari solusi bagi masyarakat sekitar agar merasakan dampak positif secara langsung. Hal ini merupakan kunci kelangsungan program yang dikembangkan kedepannya. Ya.., alih-alih konservasi untuk masyarakat, malah masyarakat merusak terumbu karang yang tersisa akibat dilarang menangkap ikan dan pemanfaatan lainya. Gencarnya konservasi tapi tidak ada peningkatan ekonomi bagi masyarakat hanya akan menunda kerusakan tanpa ada pemulihan lingkungan. Nah inilah masalah yang selalu menjadi pe-er (pekerjaan rumah) bagi kita.

By: Galaxea13, Sumber: KOMPAS, edisi minggu 24 Februari 2008

Tempat Diving

Candi Bawah Laut di Pemuteran

Underwater Temple, begitulah biasa disebut merupakan bangunan mirip candi yang berada bawah laut, Pemuteran, Bali sungguh menakjubkan. Mungkin belum banyak yang tahu, bangunan yang menjadi bagian proyek The Karang Lestari Project itu merupakan bekas candi bentar yang sengaja ditenggelamkan.

Proyek itu dimulai sejak tahun 2000 oleh para para pecinta lingkungan yang terdiri dari warga lokal dan ekspatriat, dengan donasi swadaya dan bantuan USAID. Mereka prihatin pada kondisi koral yang hancur akibat bahan peledak yang digunakan pencari ikan.

Bekas bangunan candi bentar yang salah satunya berupa gapura itu ditenggelamkan pada tahun 2005. Selain menenggelamkan benda-benda bekas candi, mereka menggunakan teknologi bernama biorock untuk ‘membangun’ terumbu karang. Informasi yang dihimpun dari http://www.globalcoral.org, teknologi itu menggunakan aliran listrik aliran rendah.

“Kerangka yang dibuat dari besi yang ditempatkan di bawah laut kemudian dialiri listrik yang akan membantu pertumbuhan batu kapur,” tulisnya.

Proyek itu rupanya berhasil. Menurut situs divingathletic.com, pada 1997 saat penyelam mengintip perairan itu, hanya koral sekarat yang bertebaran. Tapi saat mereka kembali lagi pada 2007, mereka terpengaruh. Dia menemukan, hanya dalam waktu satu tahun penanaman, struktur-struktur kerangka besi itu telah berubah menjadi karang yang menakjubkan. Ikan-ikan pun mulai tinggal di bangunan buatan itu.

Bangunan candi yang dulu hanya batu-batu biasa kini menjadi pemandangan yang sangat indah. Patung-patung, gapura, dan tembok juga telah berubah dramatis.

Bangunan yang dulunya hanya berwarna hitam batu kini telah berubah menjadi berwarna-warni, kuning, hijau, dan oranye. Para penyelam sangat surprise dengan perubahan itu.

Foto-foto indah candi di bawah laut muncul di situs mikroblogging Twitter dan menjadi perbincangan para tweeps. Sejumlah foto adalah jepretan fotografer bawah laut asal Inggris, Paul M Turley. Namun Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata belum mengetahuinya.

Pihak Kemenbudpar malah akan mengecek keaslian foto itu melalui pakar telematika. Namun kini misteri telah terpecahkan. Candi di bawah laut ternyata memang ada meski memang bukan peninggalan purbakala.

Sumber: http://www.detiknews.com