Artikel Diving

Panduan bagi Pari Manta dan Hiu Paus

Pemerintah Indonesia memberlakukan perlindungan penuh bagi ikan pari manta dan hiu paus di seluruh perairan. Namun, masih terbuka peluang bagi sumber peningkatan ekonomi masyarakat, di antaranya melalui atraksi wisata yang mengedepankan keselamatan manusia dan satwa.

”Kami sedang menyusun aturan main, bagaimana interaksi satwa liar lautan, seperti hiu paus ataupun manta dengan manusia,” kata Agus Dermawan, Direktur Konservasi Jenis Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sabtu (29/3/2014), di Jakarta.

Perlindungan ikan pari manta melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta. Ini didasarkan pada hasil CITES 2013 di Bangkok yang memasukkan dua jenis pari manta (Manta birostris dan M alfredi) dalam Apendiks II).

Sementara perlindungan ikan hiu paus melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 18/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus. Secara internasional, perlindungan hiu paus melalui CITES dalam Apendiks II, artinya penangkapan dan perdagangan fauna itu antarnegara dimungkinkan melalui kuota.

”Di Indonesia, pari manta dan hiu paus dilindungi penuh. Tak boleh ditangkap dan dimanfaatkan dagingnya,” ujar Agus.

Aturan main

Aturan main pemanfaatan ekowisata terbatas sedang disusun. Praktik wisata dinilai berisiko bagi pengunjung dan fauna, seperti di Teluk Cenderawasih. Wisatawan yang melakukan snorkeling atau SCUBA leluasa menyentuh tubuh hiu paus dengan panjang tubuh 7 meter dan berat hampir lima ton. Aktivitas itu berbahaya. Di Probolinggo, Jatim, pengunjung bisa menyentuh hiu paus di dermaga khusus.

Contoh lain, pemanfaatan berlebihan pemandangan ikan pari manta di Arborek, Raja Ampat. ”Pada saat bersamaan ada 10 kapal berlabuh dan 100 penyelam di laut. Itu membuat pari manta stres. Ada keluhan dari operator dan pengelola resor,” kata Agus.

Oleh karena itu, kata Agus, pihaknya menyusun aturan main interaksi dengan satwa ataupun jumlah kunjungan. Harapannya, ekowisata berprinsip ekonomi berkelanjutan tercapai.

Secara terpisah, Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Ben Gurion Saroy juga mengkhawatirkan tingginya intensitas pertemuan hiu paus dan manusia. Bersama WWF Indonesia, mereka membuat pedoman wisatawan, di antaranya menjaga jarak perahu 20 meter dari hiu paus dan mengurangi kecepatan. Menyentuh tubuh hiu paus juga dilarang.

[KOMPAS]

Artikel Diving, Tempat Diving

Konservasi Perairan Nusa Penida

Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fadel Muhamad, di Dermaga Nusa Penida, Klungkung mengumumkan secara resmi kawasan perairan yang mengitari Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan dan Pulau Nusa Ceningan menjadi kawasan perairan yang dilindungi pemerintah. Nama kawasan lindung ini Kawasan Konservasi Perairan disingkat KKP Nusa Penida. Deklarasi KKP Nusa Penida dilakukan bersama Menteri Fadel Muhamad, Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Bupati Klungkung I Wayan Candra, Minggu (21/11) kemarin.

Dalam kerangka KKP Nusa Penida juga disepakati menjadikan ikan mola-mola sebagai maskot KKP Nusa Penida. Selain itu, ditetapkan luas kawasan ini 20.057,2 hektar terdiri atas 1.419,05 hektar kawasan terumbu karang, areal padang lamun 108 hektar, hutan bakau 230,7 hektar dan areal budi daya rumput laut 308,3 hektar.

Beberapa alasan penting ditetapkan KKP menjadi kawasan lindung. Pertama, kawasan ini berada di sudut barat daya segi tiga karang dunia (coral triangle) dengan daya pikat luar biasa dan menjadi bagian segi tiga karang dunia yang tersebar di enam negara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste dan Kepulauan Solomon).

Kedua, keanekaragaman sumber daya hayati di dalam KKP Nusa Penida sejak lama menopang penghidupan masyarakat setempat melalui pariwisata, perikanan dan budi daya rumput laut. Ketiga, wilayah ini terkenal sebagai lokasi berkumpulnya ikan mola-mola dan ikan pari manta sehingga memancing minat banyak penyelam dan penikmat snorkling dunia. Paus dan lumba-lumba juga berpindah menuju bagian timur dan barat di antara selat-selat gugus Pulau Penida. Survei ekologi menemukan 296 jenis karang dan 576 jenis ikan di perairan Penida termasuk di antaranya 5 jenis ikan baru.

Menteri Fadel Muhamad mengatakan tujuan penetapan kawasan konservasi Penida ini untuk menghindari penangkapan berlebih, baik menggunakan alat tangkap legal maupun terlarang (khususnya penggunaan sianida untuk penangkapan ikan akuarium) yang mengancam serius ekosistem terumbu karang. Salah satu ancaman lingkungan paling serius di kawasan ini adalah sampah plastik.

Dikatakannya, penetapan KKP Nusa Penida merupakan yang pertama dari 40 wilayah konservasi nasional. Setiap kawasan akan ditawarkan kepada pemerhati lingkungan dunia. Dengan begitu, KKP Nusa Penida bukan hanya milik Bali dan Indonesia, juga milik dunia. Turis akan datang lebih banyak dan dana juga masuk lebih banyak.

Kata Fadel, kementeriannya memberi perhatian besar pada Bali. Tahun 2011 diberikan alokasi anggaran Rp 100 miliar. Khusus Nusa Penida bantuannya tak hanya dana alokasi khusus, juga pengembangan dan budi daya rumput laut.

Gubernur Made Mangku Pastika menyambut baik penetapan kawasan ini. Dia menyebut penetapan suatu kawasan menjadi makin penting karena di samping memberikan arah pemanfaatan yang jelas, juga memberikan kepastian hukum dalam pengelolaannya sehingga turut menciptakan iklim yang kondusif di daerah. Gubernur berharap Pemkab Klungkung segera menindaklanjuti penetapan ini dengan menyusun detail pemanfaatannya serta menetapkannya dalam perda kabupaten.

Dari berbagai sumber