Biorock, Terumbu Karang Buatan di Pemuteran

Semakin menurun dan rusaknya terumbu karang, mendapat respon dari berbagai kalangan peneliti untuk menemukan solusi alternatif. Dewasa ini pembuatan TKB (Terumbu Karang Buatan) merupakan hasil penelitian yang sudah dikembangkan di banyak kawasan yang mengalami kerusakan sebagai stimulan bagi recoverry terumbu karang. Di Pemuteran Bali telah dikembangkan terumbu karang dengan metode yang berbeda dari biasanya yang menggunakan beton dan rangka baja.

Dua peneliti almarhum Prof. Wolf Hilbertz (Jerman) dan Dr. Thomas Goreau (AS) berhasil menemukan dan mematenkan Biorock sebagai solusi alternaif yang baru. Biorock memiliki struktur yang dibentuk dari besi dialiri listrik tegangan rendah, mekanisme kimiawi terjadi ketika aliran listrik tadi menimbulkan reaksi elecktrolityc yang medorong pembentukan mineral alami pada air laut, seperti calcium carbonat dan magnesium hidroxyde. Pada saat bersamaan perubahan elektrokimia mendorong pertumbuhan organisme disekitar sturktur. Akibatnya ketika bibit karang ditempelkan pada struktur besi tersebut, perumbuhannya akan lebih cepat terjadi.

Biorock di Pemuteran Bali memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi dari 19 negara yang menerapkannya. Hm…!! nggak salah donk kalau Biorock di Pemuteran telah 5 kali meraih penghargaan baik lokal maupun internasional. Harapan besar bagi perkembangan teknologi ini untuk diterapkan di daerah lain di Indonesia (Karimunjawa) apalagi di Pemuteran Bali sejak tahun 2000 membawa nilai positif yang sangat besar bagi konservasi dan sektor pariwisata..
Kunci keberhasilan Biorock di Pemuteran Bali merupakan keterlibatan dari berbagai pihak terutama masyarakat sekitar. Kelompok nelayan dan Pecalang laut (polisi desa adat) dalam mejaga dari kegiatan penangkapan ikan yang nggak berwawasan lingkungan (bom, sianida, trawling dll). Pengembang wisata dan dive center juga nggak mau kalah, mereka merupakan donatur tetap pembiayaan pengeluaran listrik. Bayangkan setiap bulanya Biorock memerlukan sedikitnya 5 juta. Wow…!!

Sekarang sudah ada contohnya kalau konservasi juga mempunyai nilai jual tersendiri…!! Tergantung bagaimana keterlibatan dari berbagi pihak dalam pengelolaannya dalam mencari solusi bagi masyarakat sekitar agar merasakan dampak positif secara langsung. Hal ini merupakan kunci kelangsungan program yang dikembangkan kedepannya. Ya.., alih-alih konservasi untuk masyarakat, malah masyarakat merusak terumbu karang yang tersisa akibat dilarang menangkap ikan dan pemanfaatan lainya. Gencarnya konservasi tapi tidak ada peningkatan ekonomi bagi masyarakat hanya akan menunda kerusakan tanpa ada pemulihan lingkungan. Nah inilah masalah yang selalu menjadi pe-er (pekerjaan rumah) bagi kita.

By: Galaxea13, Sumber: KOMPAS, edisi minggu 24 Februari 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s