Praktek Diving Teh Celup

Dikeluhkan Pengusaha, Rusak Image Tanjung Benoa

Praktek kecurangan dalam industri wisata bahari khususnya kegiatan menyelam (diving), dikeluhkan sejumlah kalangan khususnya para pengusaha wisata bahari. Salah satu kecurangan yang diistilahkan dengan ”dive teh celup” atau diving hanya dalam waktu singkat, diakui menjadi momok menakutkan bagi perkembangan pariwisata bahari di kawasan Tanjung Benoa.

Dive teh celup, dilakukan oleh para guide liar alias gacong yang meminta fee tertentu kepada pengusaha. Akibatnya, timbul persaingan harga yang tidak sehat, dimana para pengusaha membanting harga dan menurunkan kualitas pelayanan. Lama kelamaan, praktik semacam ini mulai marak dan menurunkan kualitas serta citra wisata bahari di Tanjung Benoa.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Kadisparda) Badung I Made Subawa, Kamis (11/3) kemarin mengatakan, dalam praktiknya, dive teh celup dijual jauh dari harga diving standar. Jika untuk menikmati diving di Tanjung Benoa, wisatawan rata-rata harus merogoh kocek sebesar USD 50. Dengan nominal tersebut, wisatawan dapat menikmati diving selama 45 menit.

Tetapi, gara-gara praktek gacong, standar harga dan pelayanan itu justru tidak ditaati. Satu kali diving dijual murah seharga USD 20, dimana wisatawan hanya bisa menikmati diving selama sekitar 15 menit. Singkat kata, harga murah kualitas rendah.

Akibat hal tersebut, kata Subawa, wisatawan kerap merasa tidak puas. Mereka tidak bisa menikmati keindahan alam bawah laut dengan maksimal. ”Paling hanya bisa melihat ikan saja. Wisatawan tidak sampai bisa melihat terumbu karang,” ujarnya.

Tidak hanya itu, praktik dive teh celup juga dinilai berdampak terhadap kondisi terumbu karang akibat seringnya jangkar boat yang parkir dan tidak pada tempatnya. ”Ini menyebabkan kerusakan terumbu karang makin cepat,” tambahnya.

Guna menekan praktik dive teh celup di kawasan Tanjung Benoa, Subawa mengaku pihaknya telah mengumpulkan para pengusaha wisata bahari. Dalam pertemuan tersebut, dibahas mengenai efek buruk praktik dive teh celup, termasuk membahas solusi untuk mengatasinya.

Pada akhirnya, lanjut Subawa, para pengusaha sepakat, jika masih menggunakan jasa gacong, maka perusahaan dimaksud harus ditutup dengan inisiatif pengusaha yang melanggar kesepakatan. ”Pada intinya mereka (pengusaha, red) telah sepakat akan menyesuaikan harga dengan harga standar dan bersaing di pelayanan,” tegas Subawa. (ded)

Sumber: http://www.balipost.com

2 thoughts on “Praktek Diving Teh Celup

    • Setuju Gus… Ini tantangan besar….
      Susahnya kalo pengusaha wisata tirta lebih peduli sama boat dari pada melatih SDM (karyawan)… efek dari bisnis instan ya ga sih????

      Balas

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s